Micropolitics & Everyday Politics: Perlawanan Santri dalam Praktik Sehari-hari

Dalam studi politik, fokus selama bertahun-tahun sering tertuju pada institusi formal, aktor elite, dan kebijakan makro. Namun, pendekatan ini mengabaikan bentuk-bentuk kekuasaan, kontrol, dan resistensi yang berlangsung dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hari, termasuk dalam komunitas seperti pondok pesantren. Teori Micropolitics dan Everyday Politics menawarkan perspektif alternatif yang menggeser perhatian ke arah tindakan-tindakan kecil, tak kasat mata, namun sarat makna politik dalam praktik keseharian.
Di pesantren, politik tidak hanya hadir dalam bentuk keputusan kiai atau struktur organisasi, tetapi juga dalam cara santri membentuk solidaritas, menegosiasikan ruang otonomi, memaknai disiplin, atau bahkan menciptakan ruang kreatif di luar aturan baku. Politik menjadi bagian dari pengalaman hidup sehari-hari, bukan hanya narasi besar.
Bagaimana Micropolitics & Everyday Politics Bekerja di Pesantren
- Santri mengatur jadwal belajar kolektif di luar kurikulum formal untuk saling membantu memahami pelajaran.
- Muncul subkultur humor santri sebagai bentuk pembingkaian ulang terhadap otoritas yang terlalu keras.
- Strategi “nurut formal tapi kreatif informal” seperti berpakaian sesuai aturan tapi mengekspresikan identitas melalui gaya kecil seperti peci, sandal, atau catatan kecil.
- Solidaritas kelas bawah di dapur atau tempat cuci membentuk komunitas resistensi tanpa menyatakan diri sebagai oposisi.
- Penggunaan istilah, jargon, atau kode tertentu di kalangan santri sebagai bentuk “bahasa dalam bahasa” yang melahirkan agensi simbolik.
Penjelasan Inti Teori
Micropolitics merujuk pada dimensi kekuasaan dan resistensi dalam interaksi sosial tingkat mikro: bagaimana hubungan antarindividu dibentuk oleh logika kekuasaan yang kompleks, namun tidak selalu terlihat eksplisit. Everyday Politics menyoroti praktik-praktik biasa dan informal yang mengandung makna politis—bukan sebagai bentuk perlawanan terbuka, melainkan sebagai cara untuk bertahan, menyesuaikan, atau bahkan menantang kekuasaan.
| Unsur/Keyword | Penjelasan Singkat | Tokoh Utama | Karya & Tahun |
|---|---|---|---|
| Everyday Resistance | Tindakan kecil, diam, atau simbolik yang secara implisit menantang kekuasaan | James C. Scott | Weapons of the Weak (1985) |
| Subversive Norms | Norma baru yang dibentuk dari praktik sehari-hari, meskipun berbeda dari aturan resmi | Asef Bayat | Life as Politics (2010) |
| Hidden Transcript | Wacana tersembunyi yang hanya diungkap dalam komunitas tertutup | James C. Scott | Domination and the Arts of Resistance (1990) |
| Tactical Agency | Pengambilan posisi strategis secara informal | Michel de Certeau | The Practice of Everyday Life (1984) |
| Quiet Encroachment | Perluasan ruang hidup yang perlahan tanpa deklarasi politik resmi | Asef Bayat | idem |
Kritik dan Alternatif
Kritik utama:
- Teori ini dianggap terlalu mikro sehingga dianggap tidak mampu menjelaskan perubahan struktural atau institusional besar.
- Potensi romantisasi terhadap tindakan kecil yang belum tentu berdampak signifikan.
Alternatif pelengkap:
- Menggabungkan everyday politics dengan analisis struktur kekuasaan yang lebih luas (misal melalui teori hegemonic apparatus atau disciplinary power).
- Pendekatan actor-network theory (ANT) yang melihat interaksi antara manusia dan non-manusia (benda, aturan, simbol) dalam praktik sehari-hari.
Implikasi Teoritis dan Metodologis
Teoritis:
- Menantang pemahaman politik sebagai sesuatu yang hanya berlangsung di ruang formal.
- Memperluas makna agensi, kekuasaan, dan resistensi dalam konteks sosial-kultural yang spesifik.
Metodologis:
- Mendorong penggunaan etnografi, observasi partisipan, dan analisis praktik.
- Pentingnya memperhatikan narasi lokal, bahasa sehari-hari, dan simbol dalam studi politik.
Kontekstualisasi di Indonesia
Di banyak pesantren di Indonesia, praktik everyday politics menjadi cara utama bagi santri maupun staf non-elite untuk menavigasi kehidupan yang diatur secara ketat. Misalnya:
- Di pesantren besar di Jawa Timur, para santri membentuk lingkar diskusi tak resmi untuk membicarakan isu sosial yang tidak masuk dalam kurikulum resmi.
- Di pesantren berbasis salafiyah, ada praktik saling mengajari antar-santri dari latar belakang sosial berbeda, yang secara diam-diam membentuk struktur solidaritas horizontal.
- Praktik ngaji daring diam-diam juga menjadi bentuk resistensi terhadap larangan penggunaan gadget.
Ruang Riset Mahasiswa
| Tema Umum | Pertanyaan atau Objek Riset |
|---|---|
| Subkultur Santri | Bagaimana santri membentuk budaya tanding melalui simbol, humor, atau komunitas informal? |
| Resistensi Harian terhadap Aturan | Bagaimana bentuk-bentuk resistensi tak langsung terhadap aturan-aturan ketat di pesantren? |
| Strategi Navigasi Gender | Bagaimana santri perempuan melakukan manuver dalam ruang yang patriarkal secara kultural? |
| Bahasa dan Humor Politik | Apa makna politik dari lelucon santri dan bagaimana ia menjadi alat “pengolahan kuasa”? |
| Praktik Solidaritas Mikro | Bagaimana praktik saling bantu di dapur, laundry, atau perpustakaan membentuk ruang politik informal? |




