Moral Regulation : Pengaturan Moral dan Penataan Komunitas di Pesantren

Teori Moral Regulation berangkat dari pemahaman bahwa kekuasaan dalam masyarakat tidak hanya bekerja melalui hukum formal atau kekerasan koersif, tetapi juga melalui proses simbolik dan afektif yang mengatur nilai, norma, dan perilaku. Alan Hunt dan Gary Wickham menyebut ini sebagai bentuk "pengaturan dari dalam", suatu mekanisme di mana individu bukan hanya dipaksa, tetapi juga diundang untuk menjadi warga yang bermoral melalui internalisasi nilai.
Moral regulation bekerja pada ranah keseharian, bagaimana orang berpakaian, berbicara, mencintai, berdoa, atau berperilaku. Lembaga seperti sekolah, keluarga, media, dan dalam konteks kita, pesantren berfungsi sebagai agen utama pengaturan moral.
Dalam dunia pesantren, pengawasan bukan semata-mata dalam bentuk larangan atau hukuman formal, melainkan dalam bentuk pembentukan kesadaran: bahwa hidup santri harus selaras dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan, dan bahwa pelanggaran nilai adalah kegagalan moral, bukan sekadar kesalahan teknis.
Cara Kerja Teori dalam Konteks Pondok Pesantren
- Pengaturan Perilaku: Santri diajarkan perilaku tertentu (berpakaian sopan, berbicara lembut, menghormati guru) sebagai norma moral, bukan sekadar peraturan.
- Afektivitas dalam Pengawasan: Rasa malu, takut durhaka, dan cinta kepada kiai berfungsi sebagai mekanisme pengendalian.
- Reproduksi Nilai: Kitab-kitab akhlak, nasihat harian, dan teladan kiai menjadi alat reproduksi nilai-nilai moral pesantren.
- Simbol dan Ritual: Upacara seperti khataman, haul, atau pembacaan maulid meneguhkan nilai dan identitas moral kolektif.
| Konsep Kunci | Penjelasan | Tokoh Utama | Karya & Tahun | Kutipan Kunci |
|---|---|---|---|---|
| Moral Governance | Pengaturan nilai dan norma oleh institusi sosial | Alan Hunt | Governing Morals (1999) | "Governance occurs through moral codes..." |
| Regulatory Practices | Praktik keseharian yang mereproduksi nilai moral | Sasha Roseneil | Practising Identities (1999) | "Norms work through the repetition of everyday life." |
| Symbolic Control | Pengaruh simbol, bahasa, dan ritus dalam membentuk kesadaran moral | Nikolas Rose | Governing the Soul (1990) | "Moral conduct is shaped by cultural technologies." |
| Internalized Norms | Individu mematuhi aturan karena telah menjadi bagian dari struktur psikisnya | Hunt & Wickham | Foucault and Law (1994) | "Law is not only coercive, it is normative." |
Kritik terhadap teori ini :
- Teori ini dianggap terlalu fokus pada pengendalian, sehingga kurang memberi ruang pada agensi individu.
- Terlalu menekankan regulasi budaya Barat, dan kurang sensitif terhadap konteks moral non-Barat (termasuk pesantren).
Alternatif & Pengembangan:
- Pendekatan everyday resistance (James Scott) bisa dikombinasikan untuk melihat bagaimana santri bernegosiasi terhadap moral yang ditanamkan.
- Intersectionality dapat memperluas pemahaman terhadap bagaimana regulasi moral berbeda dampaknya tergantung kelas, gender, dan asal daerah.
Implikasi Teoritis dan Metodologis
Secara teoritis, moral regulation memperluas pemahaman tentang kekuasaan dari yang semata-mata represif menjadi produktif dan simbolik. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya melarang, tetapi menghasilkan identitas dan subjektivitas moral.
Dari sisi metodologis:
- Narrative Analysis: digunakan untuk menggali bagaimana santri menceritakan pengalaman moral mereka, termasuk konflik batin atau keteladanan.
- Ethnography of Regulation: meneliti bagaimana pengaturan berlangsung dalam ritual, interaksi harian, dan perasaan yang muncul (afek).
- Critical Discourse Analysis: menganalisis teks kitab, ceramah, atau poster dinding di pesantren untuk melihat narasi moral yang dibangun.
Ruang Riset Mahasiswa
| Tema Riset | Pertanyaan Kunci |
|---|---|
| Reproduksi nilai moral dalam kitab akhlak | Bagaimana kitab akhlak mengkonstruksi model santri ideal? |
| Afektivitas dalam relasi kiai-santri | Bagaimana cinta, hormat, dan takut membentuk pola kepatuhan santri? |
| Moralitas dan gender dalam pesantren | Bagaimana nilai moral dijalankan berbeda antara santri putra dan santri putri? |
| Ritual dan moral community | Bagaimana ritual harian di pesantren meneguhkan identitas moral kolektif? |
| Internalisasi nilai lewat praktik keseharian | Bagaimana jadwal dan rutinitas santri membentuk pemahaman mereka tentang moralitas? |




