Disciplinary Power: Kekuasaan yang Mengatur Tubuh dan Pikiran di Pesantren

Dalam pemikiran Michel Foucault, kekuasaan tidak semata-mata represif atau bersumber dari negara. Kekuasaan modern, menurutnya, bekerja secara halus, tersebar, dan mikro—menyusup ke dalam praktik sehari-hari, mengatur tubuh, waktu, ruang, dan perilaku. Dalam bukunya Discipline and Punish (1975), Foucault menyebut ini sebagai disciplinary power: kekuasaan yang membentuk individu agar menjadi "tubuh yang jinak" (docile bodies) melalui latihan, pengawasan, klasifikasi, dan normalisasi.
Pondok pesantren merupakan ruang sosial keagamaan yang sangat kaya untuk menganalisis bentuk kekuasaan ini. Kehidupan santri tidak hanya diatur oleh perintah langsung kiai atau pengurus, tetapi juga oleh struktur rutinitas, tata ruang, hingga norma yang diter internalisasi. Disiplin bukan semata hasil paksaan, tetapi muncul dari pengawasan yang terinternalisasi dan sistem yang memungkinkan kekuasaan bekerja secara otomatis.
Beberapa manifestasi konkret dari teori ini di pesantren antara lain:
- Jadwal harian yang ketat dan seragam: Santri bangun pada jam yang sama, mengikuti jadwal mengaji, belajar, beribadah, makan, dan tidur yang terstruktur.
- Pengawasan hierarkis: Mulai dari kiai, ustadz, pengurus, hingga senior santri berperan sebagai mata-mata disiplin dalam sistem panoptik.
- Tata ruang yang mengatur pergerakan: Ruang tidur, ruang belajar, kamar mandi, hingga masjid didesain untuk mengontrol gerak dan interaksi.
- Latihan-latihan tubuh dan bahasa: Posisi duduk dalam halaqah, cara bersalaman dengan kiai, atau intonasi saat membaca kitab merupakan bentuk pengaturan tubuh.
- Pengulangan dan habituasi: Disiplin tidak hanya diperintah, tapi dibentuk lewat kebiasaan yang diulang setiap hari hingga menjadi "alami."
- Norma internalisasi: Ketakutan melanggar aturan bukan karena takut dihukum langsung, tetapi karena merasa bersalah atau takut dinilai buruk oleh komunitas.
- Klasifikasi perilaku: Santri “taat” dipuji dan dijadikan contoh; yang “nakal” dicatat, diperingatkan, atau dikucilkan.
Dengan cara ini, kuasa tidak lagi memerlukan kekerasan atau ancaman terus-menerus, sebab santri mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kerangka disipliner pesantren.
| Unsur / Konsep Kunci | Penjelasan Singkat | Tokoh / Karya | Tahun |
|---|---|---|---|
| Disciplinary Power | Kekuasaan yang mengatur tubuh dan perilaku melalui pengawasan, pelatihan, dan klasifikasi | Michel Foucault – Discipline and Punish | 1975 |
| Panopticon | Model pengawasan di mana individu merasa selalu diawasi dan karena itu mengatur dirinya sendiri | Michel Foucault – Discipline and Punish | 1975 |
| Docile Bodies | Tubuh-tubuh yang patuh karena telah dilatih dan dibentuk oleh institusi melalui rutinitas dan pengawasan | Michel Foucault – Discipline and Punish | 1975 |
| Normalization | Proses menjadikan perilaku tertentu sebagai standar dan menyimpang sebagai sesuatu yang harus dikoreksi | Michel Foucault – Discipline and Punish | 1975 |
| Regimentation of Time & Space | Pengaturan waktu dan ruang secara ketat untuk memastikan keteraturan sosial | Michel Foucault – Discipline and Punish | 1975 |
Kritik terhadap teori ini
- Mengabaikan resistensi
Disciplinary power dianggap terlalu pesimistis karena seolah-olah semua individu sepenuhnya dibentuk dan dikendalikan oleh kekuasaan. Dalam kenyataannya, santri dan warga pesantren tidak pasif; mereka dapat menegosiasikan, menyiasati, bahkan menolak bentuk-bentuk disiplin. - Kurang mengakomodasi afeksi dan spiritualitas
Foucault lebih menekankan dimensi tubuh dan materi, tetapi dalam pesantren, relasi kuasa juga dibentuk oleh cinta, rasa hormat, dan spiritualitas, yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh konsep disiplin. - Risiko reduksionisme institusional
Dengan fokus pada lembaga dan rutinitas, teori ini cenderung mengabaikan konteks budaya dan sejarah lokal yang membentuk pesantren secara unik.
Alternatif
| Teori Alternatif | Fokus | Relevansi dalam Pesantren |
|---|---|---|
| Affective Politics | Peran emosi dalam menciptakan kepatuhan atau afiliasi terhadap kekuasaan | Menjelaskan bagaimana cinta atau takut kepada kiai membentuk kepatuhan santri |
| Symbolic Violence (Bourdieu) | Kekuasaan bekerja lewat simbol dan habitus yang membuat dominasi tampak wajar | Relevan untuk menjelaskan kenapa ketundukan dianggap “alami” oleh santri atau alumni |
| Everyday Resistance (James Scott) | Tindakan-tindakan kecil dan tersembunyi sebagai bentuk resistensi terhadap kekuasaan | Dapat membaca ekspresi pasif, diam, atau deviasi kecil dalam rutinitas pesantren |
Kontekstualisasi dalam Pondok Pesantren di Indonesia
Dalam banyak pondok pesantren tradisional di Indonesia, sistem disipliner beroperasi tidak hanya melalui perintah langsung, tetapi lewat skema rutinitas harian: bangun pukul 3 pagi, mengaji, bersih-bersih, shalat berjamaah, dan belajar dengan jadwal yang sangat padat. Struktur ruangan (misalnya asrama yang terbuka) memungkinkan santri saling mengawasi satu sama lain, memperkuat mekanisme panoptik. Bahkan dalam pesantren modern, sistem pengawasan digital (absensi elektronik, CCTV) mulai menggantikan bentuk-bentuk lama, memperlihatkan bahwa logika Foucaultian tetap relevan.
Namun, tidak semua santri patuh sepenuhnya. Beberapa menunjukkan bentuk-bentuk perlawanan kecil: bolos mengaji, mencoret-coret dinding, atau melanggar aturan tidur malam. Hal ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan teori pelengkap seperti micropolitics atau affective politics dalam membaca kompleksitas kehidupan pesantren.
Ruang Riset Mahasiswa
| Topik Riset | Pertanyaan Penelitian |
|---|---|
| Praktik Disiplin Harian Santri dan Mekanisme Pengawasan | Bagaimana sistem disipliner diterapkan dan dipertahankan dalam kehidupan harian santri? |
| Peran Kiai sebagai Figur Disipliner dalam Perspektif Foucault | Apakah kiai bertindak sebagai agen panoptik? Bagaimana persepsi santri terhadap kekuasaan spiritual tersebut? |
| Resistensi Diam dan Deviasi dalam Kehidupan Asrama | Bagaimana bentuk-bentuk kecil resistensi muncul dalam pola disipliner pesantren? |
| Perubahan Logika Disiplin dalam Pesantren Modern | Apakah teknologi (CCTV, absensi digital) menggantikan bentuk pengawasan tradisional? |
| Perbandingan Disipliner antara Pesantren Salafiyah dan Modern | Apakah ada perbedaan dalam cara kedisiplinan dibentuk dan dijalankan di dua jenis pesantren tersebut? |




