Affective Politics: Antara Emosi dan Kekuasaan

Affective politics atau politik afeksi adalah pendekatan yang menempatkan emosi, afek, dan pengalaman tubuh (corporeality) sebagai unsur sentral dalam dinamika kekuasaan, pembentukan identitas politik, dan mobilisasi sosial. Tidak seperti teori-teori politik rasionalistik yang bertumpu pada argumentasi, kalkulasi kepentingan, atau deliberasi normatif, pendekatan ini justru menggarisbawahi bahwa emosi seperti takut, marah, cinta, atau kebencian memainkan peran utama dalam pembentukan subjek politik dan kebijakan publik.
Teori ini berkembang dari gabungan antara filsafat pasca-strukturalis, teori budaya, feminisme, hingga studi media digital, dengan tokoh-tokoh kunci seperti Sara Ahmed, Brian Massumi, Lauren Berlant, Teresa Brennan, dan William Connolly. Salah satu gagasan penting dari pendekatan ini adalah bahwa afek bukan sekadar pengalaman batin personal, tapi bersifat sosial, menular, dan dapat diorkestrasi secara politik. Emosi tidak netral; ia punya orientasi ideologis dan relasi kuasa.
Brian Massumi menyebut afek sebagai “intensitas yang belum direpresentasikan secara simbolik,” yang bergerak melalui tubuh dan menciptakan resonansi kolektif. Sara Ahmed, dalam The Cultural Politics of Emotion (2004), menjelaskan bagaimana “emosi mengikat individu pada komunitas tertentu dan menjauhkan dari yang lain,” menciptakan semacam emotional border-making.
Dengan kata lain, politik tidak sekadar soal argumen dan ide, tetapi juga soal bagaimana rasa takut dipelihara, rasa bangga dibentuk, atau rasa jijik dikapitalisasi—sering kali untuk mempertahankan dominasi atau memobilisasi dukungan.
| Konsep Kunci | Penjelasan Ringkas | Kutipan / Pemikir Utama | Sumber |
|---|---|---|---|
| Affect vs Emotion | Afek adalah intensitas pralinguistik; emosi adalah bentuk sosial dari afek yang telah diberi nama dan makna | Brian Massumi: “Affect is autonomous from consciousness.” | Parables for the Virtual, 2002 |
| Sticky Emotions | Emosi melekat pada objek dan subjek tertentu secara historis dan politis | Sara Ahmed: “Emotions stick to signs, figures, and bodies.” | The Cultural Politics of Emotion, 2004 |
| Cruel Optimism | Ketertarikan pada sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan tapi sebenarnya menghambat hidup | Lauren Berlant | Cruel Optimism, 2011 |
| Affective Economies | Emosi beredar seperti komoditas; menciptakan nilai dan hierarki sosial | Sara Ahmed | The Cultural Politics of Emotion, 2004 |
| Resonansi Afektif | Afek dapat menular dan menghubungkan individu dalam jaringan politik kolektif | William Connolly | Neuropolitics, 2002 |
| Affective Infrastructure | Media, ruang publik, simbol, dan ritus yang menopang sirkulasi afek kolektif | Deborah Gould | Moving Politics, 2009 |
Kritik dan Alternatif
Kritik utama terhadap affective politics datang dari kubu rasionalis dan Marxis yang menilai teori ini terlalu abstrak, sulit dioperasionalkan secara empirik, serta kurang memperhatikan struktur material seperti kelas dan ekonomi politik.
Sebagian menyebut pendekatan ini “over-poetic” dan terlalu mengandalkan metafora tubuh atau afek tanpa menyentuh realitas politik konkret. Namun, pendekatan ini telah dipertahankan oleh banyak teoritisi feminis dan pascakolonial sebagai kritik terhadap rasionalisme maskulin-Eurocentrik, serta sebagai jalan baru memahami politik dalam era pasca-kebenaran, populisme emosional, dan mediatized politics.
Alternatif komplementer yang berkembang antara lain:
- Neuro-politics: pendekatan berbasis neurosains.
- Psychoanalytic political theory: pendekatan berbasis Lacanian atau Freudian untuk menjelaskan formasi hasrat kolektif.
- Affective Turn in IR: memasukkan afek dalam studi hubungan internasional.
Implikasi Teoretis dan Metodologis
Affective politics menantang asumsi-asumsi dasar ilmu politik:
- Menolak dikotomi rasio vs emosi.
- Menyoroti peran tubuh, suasana (atmosphere), dan simbolisme emosional.
- Mengusulkan metode interdisipliner seperti etnografi afektif, analisis wacana emosional, analisis media visual, hingga netnografi digital.
Pendekatan ini membuka jalan bagi pemahaman baru terhadap isu-isu politik kontemporer yang tidak dapat dijelaskan semata lewat angka, hukum, atau ideologi, melainkan lewat emosi dan intensitas sosial
Kontekstualisasi Indonesia
Di Indonesia, politik afeksi sangat kentara dalam:
- Kultus figur tokoh politik (dari Soekarnoisme hingga Jokowisme).
- Emosi populis anti-asing dan anti-elite dalam Pilpres.
- Politik identitas berbasis rasa takut dan kebanggaan kelompok (kasus 212 dan polarisasi Islam vs nasionalis).
- Media sosial yang memperkuat “afective publics” (Zizi Papacharissi) lewat viralitas marah, sedih, atau bangga.
Perdebatan publik di Indonesia sering kali tidak rasional, tapi emosional. Bahkan kebijakan publik—seperti pelarangan, subsidi, atau pembangunan simbolik—sering digerakkan oleh narasi emosi kolektif, bukan hanya data teknokratis.
Ruang Riset Mahasiswa
Mahasiswa dapat menjadikan affective politics sebagai pisau analisis dalam topik-topik berikut:
- Politik media sosial dan emosi publik (analisis TikTok, YouTube, X/Twitter).
- Studi gerakan sosial berbasis afek, misalnya emosi kolektif dalam 212, K-Pop activism, atau #ReformasiDikorupsi.
- Budaya pop dan nasionalisme emosional (misalnya: film patriotik, sinetron religius).
- Afektif dalam kampanye politik lokal, bagaimana emosi digunakan oleh caleg/paslon.
- Politik trauma kolektif (tragedi 1965, reformasi, atau COVID-19).
- Estetika politik dan afek dalam seni publik, mural, dan simbol perlawanan.




