KuliahPolitik Pondok Pesantren

Hermeneutic of Suspicion: Membaca Ulang Kuasa dan Tradisi di Pondok Pesantren

Pondok pesantren selama ini sering kali dipersepsikan sebagai institusi yang sakral, otoritatif, dan berada di luar ruang kritik. Otoritas kiai, tradisi keilmuan Islam klasik (turats), serta relasi sosial dalam pesantren dianggap sebagai struktur yang sudah seharusnya diterima dan dihormati tanpa tanya. Dalam konteks ini, kritik terhadap sistem pesantren sering kali dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau bahkan penodaan terhadap nilai-nilai keislaman. Namun, pendekatan Hermeneutic of Suspicion, sebagaimana dikembangkan oleh tokoh seperti Paul Ricoeur, Michel Foucault, dan Hans-Georg Gadamer, hadir untuk menggoyang kenyamanan semacam itu.

Hermeneutic of Suspicion merupakan pendekatan interpretatif yang menaruh curiga terhadap permukaan makna, menolak menerima simbol, teks, atau narasi sosial begitu saja. Ia berasumsi bahwa makna yang tampak bisa saja menyembunyikan struktur dominasi, relasi kuasa, atau ketimpangan. Sebagaimana Freud mencurigai gejala psikologis sebagai manifestasi represi, atau Marx mencurigai ideologi sebagai alat kelas dominan, pendekatan ini menilai teks dan tradisi sebagai arena pertarungan kepentingan.

Dalam konteks pesantren, pendekatan ini memungkinkan kita untuk:

  • Menyoal bagaimana teks-teks keagamaan ditafsirkan oleh otoritas tertentu, bukan oleh komunitas.
  • Mengungkap bagaimana posisi perempuan, santri miskin, atau santri non-kader dilemahkan secara simbolik dan struktural.
  • Mengkritisi bagaimana bahasa dan simbol agama digunakan untuk memperkuat status quo kekuasaan kiai dan elite pesantren.
  • Mencermati bagaimana santri diajarkan untuk “taat” melalui teks, ritual, dan struktur ruang, yang tidak selalu terbuka terhadap partisipasi kritis.

Pendekatan ini tidak bertujuan untuk menghancurkan tradisi, tetapi untuk membuka ruang bagi penafsiran yang lebih sadar kuasa dan lebih adil. Hermeneutic of Suspicion mengajak kita untuk membaca ulang pesantren, bukan dengan mata penuh kekaguman semata, melainkan dengan kecermatan analitis terhadap bagaimana kekuasaan bekerja melalui simbol, narasi, dan sistem sosial.

Unsur / Konsep KunciPenjelasanTokoh UtamaKarya & TahunKutipan Kunci
Kecurigaan terhadap teksTeks tidak pernah netral; mengandung ideologi dan kepentingan tersembunyiPaul RicoeurFreud and Philosophy (1970)“To interpret is to suspect.”
Relasi kuasa dalam diskursusWacana menciptakan dan mempertahankan struktur kekuasaanMichel FoucaultThe Archaeology of Knowledge (1969)“Where there is power, there is resistance.”
Pembacaan kritis tradisiTradisi bisa menjadi alat dominasi jika tidak dikritisi secara reflektifHans-Georg GadamerTruth and Method (1960)
Bahasa sebagai medium kuasaBahasa mengkonstruksi relasi kuasa dan menyembunyikan ketimpanganPierre BourdieuLanguage and Symbolic Power (1991)

Kritik dan Alternatif
Salah satu kritik terhadap Hermeneutic of Suspicion adalah kecenderungannya yang terlalu destruktif atau skeptis, sehingga berisiko mengikis kepercayaan terhadap komunitas dan tradisi. Dalam konteks pesantren, pendekatan ini bisa dituduh sebagai bentuk “liberalisasi pemikiran” atau “dekonstruksi liar” terhadap nilai-nilai Islam.

Namun, tokoh seperti Paul Ricoeur sendiri menyadari ini dan mengusulkan adanya hermeneutic of faith—pembacaan yang menggabungkan kecurigaan kritis dengan kesediaan untuk memahami secara simpatik. Dalam hal ini, pembacaan kritis bisa hidup berdampingan dengan penghargaan terhadap nilai spiritual dan moral pesantren, selama tetap terbuka terhadap transformasi.

Implikasi Teoritis dan Metodologis
Teoritis:

  • Membuka ruang dekonstruksi atas simbol-simbol religius sebagai alat kontrol sosial.
  • Menempatkan pesantren sebagai institusi ideologis yang bisa mereproduksi kekuasaan.
  • Memahami dinamika otoritas tidak hanya sebagai relasi formal, tapi sebagai konstruksi diskursif.

Metodologis:

  • Critical Discourse Analysis (CDA) terhadap pengajian kitab, pidato kiai, atau teks kurikulum.
  • Narrative Inquiry terhadap kisah pengalaman santri yang mengalami subordinasi.
  • Ethnografi interpretatif untuk menggali makna simbolik dari praktik ritual pesantren.

Bagaimana Teori Ini Bekerja di Pesantren

  • Mengkaji pengajian kitab sebagai arena hegemonik tafsir yang tak selalu inklusif terhadap kelompok subordinat (misalnya perempuan).
  • Membaca struktur kurikulum sebagai sistem nilai yang mereproduksi norma kepatuhan dan hierarki.
  • Menganalisis ruang dan waktu dalam pesantren (jadwal, asrama, batas gender) sebagai teknik pengaturan sosial.
  • Mencermati peran kiai sebagai produsen makna dan penjaga ortodoksi dalam posisi yang sulit dikritik secara terbuka.
  • Menelusuri kisah santri “tidak ideal” (misalnya yang keluar dari pesantren) sebagai bentuk penolakan terhadap narasi dominan.

Beberapa pesantren progresif seperti Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), atau bahkan forum-forum diskusi santri di media sosial, menjadi contoh resistensi terhadap tafsir tunggal. Di sisi lain, di banyak pesantren tradisional, ruang untuk tafsir ulang masih sempit dan terbatas oleh figur kiai sebagai pusat kebenaran.

Contoh kasus: interpretasi fikih gender yang melanggengkan subordinasi perempuan sering kali diajarkan sebagai bagian dari turats tanpa pertimbangan kontekstual atau kritik. Hermeneutic of Suspicion dapat membuka diskusi kritis dalam konteks ini.

Ruang Riset Mahasiswa

Isu Riset MahasiswaMetode yang Disarankan
Tafsir ideologis kitab kuning terkait gender atau kekuasaanCritical Discourse Analysis
Analisis narasi dominan dalam pidato kiai terhadap struktur sosial pesantrenNarrative analysis
Praktik bahasa, simbol, dan ritual dalam membentuk ketaatan simbolik di kalangan santriEthnografi interpretatif
Kritik santri progresif terhadap struktur tafsir dominan melalui media sosial pesantrenNetnografi dan analisis wacana

Related Articles

Back to top button