Insurgent Citizenship dan Everyday Politics : Kontestasi, Perlawanan, dan Ruang Politik dari Bawah

Dominasi kajian politik formal seringkali menyingkirkan tindakan politik warga biasa yang berlangsung di luar institusi resmi negara. Namun dalam dua dekade terakhir, muncul gelombang pemikiran yang menantang dominasi ini: teori Insurgent Citizenship dan Everyday Politics / Micropolitics. Kedua pendekatan ini menawarkan cara baru memahami agensi politik warga biasa, bukan sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek politik yang aktif—melalui aksi perlawanan, negosiasi, simbolisasi, dan rutinitas sehari-hari.
Insurgent Citizenship (James Holston, 2008) lahir dari konteks kota-kota Global South, seperti Brasil, yang menunjukkan bahwa warga miskin seringkali menuntut hak-haknya melalui bentuk-bentuk kontestasi ruang kota. Sementara itu, pendekatan Everyday Politics / Micropolitics (Kerkvliet, Scott, Bayat) menunjukkan bahwa politik juga berlangsung di ranah informal dan mikro, seperti gosip, ejekan, penghindaran pajak, hingga penggunaan ruang publik yang tidak sesuai hukum negara. Keduanya menyuguhkan pembacaan politik sebagai sesuatu yang lebih cair, taktis, dan terus-menerus dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Insurgent Citizenship
| Unsur / Konsep Kunci | Penjelasan Singkat | Tokoh & Karya (Tahun) | Kutipan atau Gagasan Inti |
| Insurgent Citizenship | Tindakan warga yang menantang batasan eksklusif kewargaan melalui klaim atas hak kota | James Holston, Insurgent Citizenship (2008) | “Citizenship has become a space of insurgency rather than accommodation.” |
| Right to the City | Hak kolektif warga untuk membuat dan merebut ruang kota secara demokratis | Henri Lefebvre, Le Droit à la Ville (1968) | “The right to the city is a right to change ourselves by changing the city.” |
| Urban Exclusion | Proses peminggiran warga miskin dalam kebijakan tata kota dan pembangunan | James Holston (2008) | “Urban planning often institutionalizes inequality by denying rights of residence.” |
| Autoconstruction | Praktik warga membangun tempat tinggal sendiri secara informal dan kolektif | James Holston (2008) | “Autoconstruction is both an act of survival and a mode of urban citizenship.” |
| Peripheral Urbanism | Tumbuhnya kawasan-kawasan miskin sebagai hasil resistensi terhadap eksklusi kota | Teresa Caldeira, City of Walls (2000) | “Urban peripheries are not outside legality, but produce alternative legalities.” |
Everyday Politics / Micropolitics
| Unsur / Konsep Kunci | Penjelasan Singkat | Tokoh & Karya (Tahun) | Kutipan atau Gagasan Inti |
| Everyday Politics | Aktivitas warga biasa dalam menegosiasikan kekuasaan melalui tindakan harian yang tidak langsung | Benedict Kerkvliet, Everyday Politics (2009) | “Politics is not only what happens in formal arenas, but in everyday life.” |
| Infrapolitics | Bentuk resistensi terselubung seperti sindiran, diam, gosip, atau penghindaran aturan | James C. Scott, Weapons of the Weak (1985) | “Infrapolitics is the disguised form of resistance by subordinated groups.” |
| Quiet Encroachment | Perampasan ruang dan hak secara senyap oleh kelompok marjinal melalui praktik sehari-hari | Asef Bayat, Street Politics (1997); Life as Politics (2010) | “Nonmovements change urban life not through protest but through presence and persistence.” |
| Hidden Transcript | Wacana yang muncul dalam ruang privat sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi | James C. Scott, Domination and the Arts of Resistance (1990) | “What is spoken behind the back of power constitutes a counter-politics.” |
| Tactical Navigation | Strategi warga dalam “menavigasi” aturan negara secara fleksibel dan kontekstual | Michel de Certeau, The Practice of Everyday Life (1984) | “Tactics are the art of the weak to make use of the space imposed by the powerful.” |
Persamaan dan Perbedaan
| Aspek | Insurgent Citizenship | Everyday Politics / Micropolitics |
| Ruang Fokus | Kota, ruang publik, sistem hukum | Kehidupan sehari-hari, komunitas lokal, relasi mikro |
| Bentuk Politik | Klaim hak, okupasi ruang, protes warga urban | Taktik diam, humor, simbol, perlawanan senyap |
| Gaya Politik | Konfrontatif dan terbuka | Taktis, tidak langsung, simbolik |
| Aktor Utama | Warga urban miskin, komunitas pinggiran | Petani, perempuan, pekerja informal, pemukim marginal |
| Tujuan Politik | Menuntut hak-hak kewargaan (citizenship) yang setara | Bertahan hidup, resistensi simbolik, negosiasi kekuasaan |
| Keterhubungan dengan Negara | Menantang aturan formal dan eksklusi | Menghindari, menyiasati, atau mempermainkan negara |
Implikasi Teoritis dan Metodologis
Secara teoretis, dua pendekatan ini menggeser analisis politik dari negara ke masyarakat, dari institusi ke praktik. Keduanya mendekonstruksi pemahaman dominan tentang siapa yang berhak disebut sebagai "aktor politik", dan menunjukkan bahwa politik tak harus berbentuk demonstrasi besar, melainkan bisa bersifat mikro, diam-diam, bahkan menyaru sebagai praktik sosial biasa.
Metodologis, teori ini membutuhkan pendekatan etnografi, observasi partisipan, dan analisis simbolik. Istilah seperti narrative analysis, ethnography of power, atau thick description menjadi penting. Peneliti harus peka pada simbol, bahasa tubuh, ironi, dan rutinitas yang mengandung makna politis tersembunyi.
- Narrative analysis: Membaca kisah hidup, humor, dan narasi warga sebagai bentuk perlawanan.
- Ethnography of power: Mengamati bagaimana kekuasaan dinegosiasikan di ruang informal, bukan sekadar di parlemen.
- Thick description: Merekam secara detail konteks budaya tindakan politik "kecil" warga.
Insurgent Citizenship di Indonesia
Di Indonesia, konsep insurgent citizenship tampak nyata dalam perjuangan komunitas miskin kota (urban poor), penggusuran paksa, klaim atas tanah negara, serta gerakan akar rumput yang menuntut “hak atas kota”. Praktik seperti pembangunan kampung mandiri, protes terhadap reklamasi pesisir, atau advokasi warga terdampak proyek infrastruktur (seperti tol atau bandara) menjadi bentuk insurgency terhadap kewargaan yang eksklusif.
Contoh Kasus:
- Warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara, yang digusur pada 2016 lalu kemudian membangun kembali rumah secara kolektif dengan dukungan arsitek dan LSM.
- Penolakan warga Pulau Rempang terhadap proyek “Rempang Eco City”, di mana warga menuntut hak tinggal dan sejarah leluhur atas tanah adat mereka.
- Protes terhadap reklamasi Teluk Jakarta yang ditolak nelayan sebagai bentuk penghilangan ruang hidup.
Everyday Politics di Indonesia
Di masyarakat pesantren, kampung, dan pedesaan Indonesia, everyday politics terjadi dalam bentuk tawar-menawar halus antara warga dan elite lokal, seperti kepala desa, kyai, atau aparat. Warga jarang menyampaikan protes terbuka, tetapi melakukan strategi halus seperti menghindari pertemuan, menyindir lewat media sosial, atau membangun jaringan informal.
Contoh Kasus:
- Warga desa yang melawan proyek tambang dengan menolak menjual tanah, menyebarkan informasi diam-diam, atau membocorkan kebijakan elite melalui WhatsApp.
- Perlawanan halus santri terhadap kyai otoriter melalui kritik humoris, meme dakwah, atau gosip di balik layar.
- Perempuan desa yang menentang patriarki dalam keluarga dengan mengelola keuangan rumah tangga diam-diam atau memengaruhi anak dalam keputusan pendidikan.
Ruang Riset Mahasiswa untuk Insurgent Citizenship
| Topik Riset Mahasiswa | Pertanyaan Kunci | Metode yang Disarankan |
| Klaim warga miskin kota atas ruang hidup | Bagaimana warga mengklaim kembali ruang kota pasca penggusuran? | Etnografi kota, wawancara naratif |
| Kampung mandiri dan otoproduksi ruang | Apa bentuk "autoconstruction" yang dilakukan warga? | Participatory mapping, visual ethnography |
| Konflik agraria dan hak atas tanah adat di wilayah urbanisasi | Bagaimana warga membentuk identitas kewargaan melalui konflik agraria urban? | Studi kasus konflik tanah, analisis dokumen hukum |
| Politik perumahan dan eksklusi kelas bawah di perkotaan | Bagaimana kebijakan perumahan mereproduksi eksklusi sosial? | Analisis kebijakan, wawancara kebijakan |
| Advokasi komunitas nelayan terhadap proyek reklamasi / pesisir | Bagaimana strategi komunitas pesisir membentuk citizenship alternatif? | Etnografi advokasi, analisis wacana |
Ruang Riset Mahasiswa untuk Everyday Politics / Micropolitics
| Topik Riset Mahasiswa | Pertanyaan Kunci | Metode yang Disarankan |
| Strategi warga desa dalam menolak proyek tambang atau sawit | Bagaimana warga menyuarakan penolakan tanpa konfrontasi langsung? | Etnografi desa, observasi partisipatif |
| Micropolitics di dalam pesantren | Bagaimana santri menyampaikan kritik terhadap kyai secara tidak langsung? | Studi kasus kualitatif, observasi budaya |
| Gosip politik dan humor sebagai alat perlawanan sosial | Apa fungsi humor dan sindiran dalam resistensi warga terhadap elite lokal? | Analisis semiotik, observasi interaksi harian |
| Negosiasi perempuan dalam rumah tangga patriarkal | Bagaimana perempuan menggunakan ruang privat sebagai arena politik harian? | Wawancara mendalam, analisis gender domestik |
| Navigasi aturan birokrasi oleh warga untuk akses layanan sosial | Bagaimana warga menyesuaikan diri dan “mengakali” aturan negara demi akses hak sosial? | Ethnography of bureaucracy, studi dokumen lapangan |



