KuliahTeori Politik

Neoliberal Governmentality : Rasionalitas Kekuasaan dalam Era Pasar Global

Neoliberal Governmentality adalah konsep yang berasal dari pembacaan Michel Foucault atas relasi antara kekuasaan dan subyektivitas dalam konteks neoliberalisme sebagai bentuk baru dari rasionalitas pemerintahan. Melalui kuliah-kuliahnya di Collège de France pada akhir 1970-an, khususnya dalam seri The Birth of Biopolitics, Foucault menggeser cara pandang terhadap neoliberalisme: bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan sebagai modus of government, yakni cara-cara berpikir dan mengelola populasi yang menundukkan kehidupan sosial ke dalam logika pasar.

Konsep ini diperluas dan direinterpretasi secara tajam oleh Wendy Brown, terutama dalam karya seperti Undoing the Demos (2015), yang memperlihatkan bagaimana nalar neoliberal telah menggerogoti ruang publik, pendidikan tinggi, institusi demokratis, dan bahkan bentuk identitas politik warga negara. Neoliberalisme, dalam kerangka ini, tidak hanya menjadikan pasar sebagai model organisasi ekonomi, tetapi juga sebagai model utama bagi seluruh kehidupan sosial dan pemerintahan.

Neoliberalisme sebagai Rasionalitas Pemerintahan
Foucault menunjukkan bahwa neoliberalisme bukan semata sistem kebijakan ekonomi berbasis privatisasi dan deregulasi, tetapi merupakan rasionalitas yang mengatur cara negara mengatur, dan cara individu mengatur dirinya sendiri. Negara tidak lagi menjadi pengatur langsung, tetapi menjadi fasilitator bagi mekanisme pasar agar meresap ke seluruh sendi kehidupan sosial.

Homo Oeconomicus sebagai Subjek Politik Baru
Dalam rasionalitas neoliberal, subjek tidak lagi dianggap sebagai warga negara (citizen) yang rasional dan deliberatif dalam ruang politik, melainkan sebagai homo oeconomicus, individu yang mengoptimalkan dirinya sebagai komoditas, investor, dan entrepreneur atas hidupnya sendiri. Hal ini berdampak pada transformasi relasi sosial menjadi transaksional dan kompetitif.

Manajerialisme dan Evaluasi sebagai Alat Kekuasaan
Neoliberalisme menciptakan mekanisme kekuasaan baru melalui sistem evaluasi berbasis performativitas: akreditasi, peringkat, benchmarking, dan logika KPI (key performance indicator). Universitas, rumah sakit, birokrasi pemerintahan, hingga ormas dan lembaga agama didorong untuk berpikir dan bertindak layaknya perusahaan yang mengedepankan efisiensi, output, dan daya saing.

Wendy Brown: Demos yang Terurai
Wendy Brown menggarisbawahi bahwa neoliberalisme bukan hanya melahirkan ketimpangan ekonomi, tetapi juga membongkar fondasi ontologis dari demos. Warga negara kehilangan kapasitas untuk bertindak sebagai subjek politik, karena ruang-ruang deliberatif digantikan oleh kalkulasi risiko, manajemen diri, dan mentalitas kompetitif.

Dampak Neoliberal Governmentality dalam Konteks Sosial-Politik

Erosi Demokrasi Substantif
Meskipun demokrasi prosedural masih dijalankan secara formal, kemampuan masyarakat untuk mempengaruhi kebijakan publik secara substantif melemah drastis. Partai politik berubah menjadi institusi mediasi pasar politik; perwakilan politik kehilangan daya sebagai artikulator kepentingan rakyat karena logika efisiensi dan teknokrasi mendominasi.

Pasar Pendidikan dan Universitas sebagai Entitas Neoliberal
Institusi pendidikan tinggi menjadi contoh paling gamblang dari penetrasi rasionalitas neoliberal. Kurikulum dirancang berdasarkan market-demand, dosen diposisikan sebagai human capital, dan mahasiswa diperlakukan sebagai konsumen. Di sini terjadi “komodifikasi pengetahuan” dan pengaburan peran universitas sebagai ruang kritis.

Reformasi Birokrasi dan Logika Audit
Penerapan prinsip-prinsip manajemen korporat dalam birokrasi negara  seperti e-budgeting, sistem reward-punishment, dan sistem meritokrasi berbasis angka — menjadikan institusi pemerintahan tunduk pada logika performa, bukan kepentingan publik. Alih-alih pelayanan publik yang adil, yang muncul adalah pelayanan sebagai bentuk pelayanan jasa. Subyektivitas Baru dan Pola Resistensi.

Rasionalitas neoliberal tidak hanya memengaruhi struktur, tetapi juga menciptakan cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Individu neoliberal menjadi entitas yang selalu “mengelola risiko”, mengevaluasi dirinya sendiri, dan melihat relasi sosial sebagai arena investasi. Bentuk resistensi terhadap ini memerlukan pemulihan ruang kolektif, solidaritas, dan politik afektif.

Unsur / Konsep KunciPenjelasan RingkasKutipan Langsung (Brown)Karya & Tahun
1. Homo EconomicusIndividu dibentuk sebagai entitas ekonomi yang rasional dan kompetitif.“Neoliberalism configures the subject as a human capital.”Undoing the Demos, Wendy Brown, 2015
2. Market Rationality EverywhereLogika pasar diterapkan di semua bidang, dari pendidikan hingga pemerintahan.“All conduct is submitted to market metrics and incentives.”Undoing the Demos, 2015
3. Moralization of FailureGagal dianggap sebagai kesalahan pribadi, bukan masalah struktural.“Responsibilization replaces social justice.”Undoing the Demos, 2015
4. De-democratizationDemokrasi digantikan oleh manajemen dan teknokrasi.“Neoliberal rationality undermines democratic imaginaries.”Undoing the Demos, 2015
5. Managerial UniversityKampus menjadi seperti perusahaan: efisiensi, target, output.“The university now figures as an entrepreneurial firm.”Undoing the Demos, 2015

Aplikasi dan Relevansi dalam Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, neoliberalisme hadir melalui paket reformasi sejak 1998, Program Penyesuaian Struktural (SAP), otonomi daerah, dan deregulasi. Namun yang lebih penting, neoliberal governmentality telah menjadi “struktur perasaan” baru dalam kebijakan pendidikan, tata kelola kampus, reformasi birokrasi, hingga gerakan keagamaan modern.

Beberapa contoh yang bisa dikaji:

  1. Komersialisasi pendidikan tinggi melalui sistem UKT dan PTNBH.
  2. Penyusutan ruang kritik di kampus karena penyeragaman indikator kinerja.
  3. Rasionalisasi kerja ASN berdasarkan e-Kinerja dan reward system.
  4. Ormas keagamaan yang membentuk cabang-cabang bisnis dan investasi.
  5. Komodifikasi aktivisme mahasiswa ke dalam logika personal branding.
  6. Munculnya kelas menengah perkotaan yang apolitis tetapi aktif dalam self-improvement berbasis logika pasar.

Objek Penelitian Potensial

Konsep ini membuka ruang kajian yang luas dalam penelitian politik dan sosial:

  1. Studi sosiologi politik kampus: bagaimana neoliberalism membentuk ulang relasi dosen-mahasiswa?
  2. Analisis kebijakan pendidikan nasional: komersialisasi dan marketisasi pendidikan.
  3. Gerakan mahasiswa dan logika performatif: bagaimana organisasi mahasiswa menjelma menjadi wadah kompetisi portofolio?
  4. Resistensi terhadap manajerialisme: studi kasus komunitas, koperasi, atau ruang alternatif yang menolak logika pasar.
  5. Kritik atas meritokrasi palsu dalam birokrasi Indonesia.

Urgensi Membongkar “Common Sense” Neoliberalisme

Salah satu kekuatan utama dari neoliberalisme adalah kemampuannya menjadi invisible rationality. Ia hadir tanpa harus dipertanyakan, karena menjelma menjadi nalar umum dalam melihat dunia. Pemerintah, universitas, keluarga, dan individu menyerap logika ini tanpa sadar: bahwa segala sesuatu harus diukur, dinilai, ditransaksikan, dan dilihat dari potensi pasarnya.

Oleh karena itu, Neoliberal Governmentality bukan sekadar kajian filsafat politik atau teori kritis, melainkan alat epistemik untuk membuka kembali kemungkinan berpolitik di luar logika pasar. Ia mengajak kita bertanya kembali: siapa yang berhak menentukan masa depan bersama, dengan logika apa, dan untuk kepentingan siapa?

Post Test
0

Neoliberal Governmentality

Post-test untuk pertemuan ini, yang bertujuan mendokumentasi pemahaman kognitif mahasiswa terkait materi neoliberal governmentality

1 / 5

Apa inti dari konsep neoliberal governmentality menurut Michel Foucault?

2 / 5

Dalam logika neoliberal, individu dipandang sebagai:

3 / 5

Mengapa neoliberalisme disebut menggerogoti demokrasi?

4 / 5

Apa dampak neoliberalisme terhadap perguruan tinggi?

5 / 5

Contoh resistensi terhadap neoliberal governmentality adalah:

Your score is

Related Articles

Back to top button