Agency in Constraint: Daya Tindakan dalam Belenggu Struktur Pesantren

Di lingkungan pondok pesantren, yang sering dicirikan oleh struktur sosial yang hierarkis, ketaatan tinggi terhadap aturan, dan dominasi simbolik dari figur otoritatif seperti kiai, terdapat asumsi umum bahwa santri atau warga pesantren tidak memiliki ruang untuk menyatakan otonomi atau resistensi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya dinamika sosial yang jauh lebih kompleks. Di sinilah teori Agency in Constraint menjadi relevan—teori ini menolak dikotomi antara kebebasan total dan dominasi total, dan menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi penuh batasan, individu tetap memiliki ruang untuk bertindak, memilih, dan memengaruhi arah perubahan sosial.
Alih-alih melihat agensi sebagai aksi frontal dan terbuka terhadap kekuasaan, teori ini menggambarkan agensi sebagai proses yang halus, kontekstual, dan seringkali tidak tampak secara eksplisit. Dalam konteks pesantren, hal ini menjadi penting untuk memahami bagaimana perubahan terjadi dari dalam, melalui manuver, negosiasi, dan inisiatif kecil yang dilakukan oleh aktor subordinat dalam struktur keagamaan.
Teori ini menjelaskan berbagai bentuk tindakan dan manuver sosial yang dilakukan santri, ustaz muda, atau komunitas internal lainnya dalam batas-batas struktur yang membatasi:
- Santri memodifikasi praktik keagamaan dalam ruang privat, misalnya dengan menyesuaikan wirid atau metode menghafal sesuai kapasitasnya tanpa menolak perintah guru.
- Ustaz muda memperkenalkan metode pengajaran digital secara perlahan, disisipkan dalam pelajaran kitab kuning tanpa harus menantang otoritas tradisional.
- Santri perempuan memperluas ruang diskusi melalui kegiatan informal seperti diskusi tafsir di luar kelas resmi.
- Alumni membentuk pesantren cabang dengan inovasi kurikulum, tetapi tetap mencantumkan nama kiai atau pesantren induk sebagai bentuk loyalitas simbolik.
- Masyarakat sekitar menyuarakan aspirasi mereka melalui forum tak resmi seperti pengajian keluarga, bukan forum resmi pesantren.
Penjelasan Inti Teori
Teori ini berangkat dari pandangan bahwa agensi bukanlah kondisi mutlak, melainkan relasi situasional—kemampuan untuk bertindak selalu terikat pada konteks sosial, struktur kekuasaan, dan posisi subjek. Struktur bukan hanya pengekang, tapi juga sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Karena itu, tindakan dalam keterbatasan (agency in constraint) adalah tindakan yang reflektif, strategis, dan memanfaatkan celah-celah yang tersedia dalam struktur sosial yang ada.
| Unsur/Keyword | Penjelasan Singkat | Tokoh Utama | Karya & Tahun |
|---|---|---|---|
| Conditional Agency | Agensi dalam batas struktur sosial dan norma yang berlaku | Emirbayer & Mische | What is Agency? (1998) |
| Strategic Navigation | Strategi untuk bermanuver dalam batasan struktur | Ortner, Sewell, Mahmood | Anthropology and Social Theory (2006), dll. |
| Situated Agency | Agensi yang terkait dengan posisi sosial dan relasi kekuasaan tertentu | Saba Mahmood | Politics of Piety (2005) |
| Temporal Orientation | Agensi sebagai respon terhadap masa lalu dan proyeksi ke masa depan | Emirbayer & Mische | idem |
| Non-Frontal Resistance | Perlawanan tidak langsung yang berbentuk akomodasi, penundaan, atau modifikasi | Ortner, Mahmood | idem |
Kritik dan Alternatif
Kritik utama terhadap teori ini datang dari dua arah:
- Kaum strukturalis berpendapat bahwa dalam institusi seperti pesantren, ruang untuk agensi sangat minim, dan tindakan aktor subordinat seringkali hanya merupakan reproduksi struktur dominan.
- Kaum radikal menyatakan bahwa teori ini terlalu “kompromistis” karena tidak cukup memberikan ruang pada kemungkinan perubahan struktural yang revolusioner.
Namun, teori ini justru menawarkan alternatif penting. Alih-alih menunggu perubahan besar dari luar, agency in constraint membuka ruang untuk membaca perubahan dari dalam, dengan cara yang lebih halus namun tetap signifikan secara sosial dan politis.
Implikasi Teoritis dan Metodologis
Implikasi teoritis:
- Menghindari pendekatan dikotomis dalam melihat dominasi dan perlawanan.
- Mendorong pemahaman politik sebagai praktik mikro, kontekstual, dan situasional.
Implikasi metodologis:
- Membutuhkan pendekatan etnografis yang intensif, mendalam, dan berbasis pengalaman aktor.
- Menekankan pentingnya analisis naratif dan historis untuk melihat bagaimana individu memahami dan menavigasi batasan sosial.
Kontekstualisasi di Indonesia
Beberapa contoh nyata bagaimana teori ini bekerja di Indonesia:
- Di pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng, alumni mendirikan komunitas sosial-politik berbasis nilai pesantren, meskipun dengan pendekatan kontemporer.
- Santri digital memanfaatkan media sosial untuk berdakwah dengan gaya yang tidak formal, kadang bahkan jenaka, tanpa mengubah struktur pesantren.
- Di pesantren perempuan, ruang diskusi tentang hak perempuan disisipkan melalui tafsir gender dalam kajian tafsir tematik, tanpa deklarasi feminisme.
Ruang Riset Mahasiswa
| Tema Umum | Pertanyaan atau Objek Riset |
|---|---|
| Strategi Ustaz Muda dalam Inovasi | Bagaimana ustaz muda mengembangkan kurikulum berbasis digital tanpa menentang otoritas? |
| Agensi Santri Perempuan | Bagaimana santri perempuan menafsirkan ulang aturan tentang gender dalam kehidupan mereka? |
| Dakwah Media Sosial oleh Santri | Bagaimana penggunaan TikTok atau Instagram menjadi ruang dakwah yang tidak formalis? |
| Alumni dan Perubahan Sosial | Bagaimana alumni mendirikan lembaga sosial dengan nilai pesantren tapi pendekatan baru? |
| Agensi dalam Tradisi Ngaji | Bagaimana santri memodifikasi metode belajar sesuai minat pribadi di luar struktur formal? |




