KuliahTeologi Politik

Materi Kuliah Teologi Politik

Materi ini memosisikan teologi politik sebagai penyelidikan konseptual atas istilah-istilah inti politik dalam terang premis teologis yang memberi bobot normatif. Fokusnya bukan kasus kebijakan, melainkan klarifikasi konsep dan argumen; jadi tidak ada “cocoklogi”. Setiap tema memakai istilah yang memang kanonik di teologi politik, dengan rujukan primer dan artikel ilmiah terbuka (open access) untuk dibaca langsung.

Urutan enam belas tema ini ditata dari fondasi ke perluasan kontemporer. Pertemuan 1 membuka definisi bidang (genealogi, ranah, metode). Tema 2–5 meletakkan dasar metafisis-teologis: transendensi–imanensi (apakah politik memadai tanpa horizon di luar dirinya), creatio ex nihilo dan kontingensi tatanan (mengapa lembaga tidak niscaya/sakral), providensi vs fortuna (menghindari fatalisme dalam membaca peristiwa), dan teodise politik (batas memberi “makna” pada kejahatan struktural).

Dari fondasi itu, tema 6–7 memetakan modus kehadiran agama di ruang publik pasca-sekuler (bagaimana klaim religius masuk ke deliberasi tanpa memaksa) dan konstitusionalisme dalam konteks Islam (kerangka pengakuan, mayoritas-minoritas, dan nalar publik yang dapat dipertanggungjawabkan).

Berikutnya, tema 8–11 menyorot kontribusi konseptual dari khazanah filsafat-teologi Islam: teleologi “kota luhur” dan saʿādah (hukum-ritus sebagai pedagogi jiwa kolektif), ʿaṣabiyyah sebagai ontologi kohesi (kekuatan politik sebelum perangkat hukum), amanah etis (dasar legitimasi tindakan politik), dan bahasa–amal publik (ujar-iman sebagai speech-act yang membentuk ruang publik). Keempatnya dibahas sebagai teori, bukan etalase norma kebijakan.

Tema 12–16 memperluas cakrawala: populisme, nasionalisme agama, dan politik identitas (pola legitimasi religius dalam mobilisasi), era digital & AI (otoritas algoritmik dan “teodise” teknologi), ekoteologi & Antroposen (ciptaan, keadilan ekologis, imajinasi liturgis), gender/queer & tubuh (tubuh sebagai locus otoritas dan pengakuan), serta lintas-tradisi Buddhis–Konfusian–Sikh (menguji padanan kategori teologi politik di luar tradisi Abrahamik). Kelimanya tetap berada dalam koridor teologi politik: menilai relasi teologis-normatif atas istilah politik, bukan sekadar mendeskripsikan fenomena sosial.

NoNama Teori/PendekatanTokoh KunciKarya Utama & TahunKonsep Kunci
1Kuliah Pengantar — Apa itu Teologi Politik? Genealogi, ranah, dan metodeAugustine; Carl Schmitt; al-Fārābī; al-Māwardī; Ibn Khaldūn; ʿAlī ʿAbd al-RāziqCity of God (±426); Political Theology (1922); Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (abad 10; ed. Walzer 1985); al-Aḥkām al-Sulṭāniyya (abad 11); al-Muqaddimah (1377); al-Islām wa Uṣūl al-Ḥukm (1925)kedaulatan; state of exception; saeculum; imāmah/khilāfah; madīnah fāḍilah; ʿaṣabiyyah/ʿumrān
2Teologi Politik: Transendensi dan ImanensiCharles Taylor, John Milbank, Oliver O’DonovanA Secular Age (2007); Theology and Social Theory (1990); The Desire of the Nations (1996)transendensi; imanensi; sekularitas terbuka
3Penciptaan dari Ketiadaan dan Kontingensi TatananKathryn Tanner, Rowan Williams, Thomas AquinasGod and Creation in Christian Theology (1988); “Creation, Contingency and Freedom” (1993); ST I q.45 (1265–1274)creatio ex nihilo; kontingensi; desakralisasi lembaga
4Providensi Ilahi dan Fortuna dalam PolitikAugustine, Oliver O’Donovan, Niccolò MachiavelliCity of God V/XIX (±426); The Desire of the Nations (1996); The Prince ch.25 (1532)providensi; fortuna; prudence
5Teodise Politik: Kejahatan dan Batas PenjelasanMarilyn McCord Adams, Johann Baptist MetzHorrendous Evils and the Goodness of God (1999); Faith in History and Society (1977)kejahatan struktural; teodise minimal; kerendahan-hati epistemik
6Agama di Ruang Publik Pasca-SekulerJürgen Habermas, José Casanova, Talal Asad“Religion in the Public Sphere” (2006); Public Religions in the Modern World (1994); Formations of the Secular (2003)pasca-sekuler; alasan publik; translasi
7Teologi Politik Islam & KonstitusionalismeAl-Shāṭibī, Jeremy Menchik, Simon Buttal-Muwāfaqāt (abad 14); “Productive Intolerance” (2014); Journal of Law and Religion (artikel 2020)maqāṣid; pengakuan; mayoritas–minoritas; nalar publik
8Kota Luhur: Teologi Politik Hukum, Ritus, dan SaʿādahAl-Fārābī, Muhsin MahdiĀrā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (ed./trans. Walzer, 1985); Alfarabi and the Foundation… (2001)teleologi polis; saʿādah; hukum-ritus sebagai pedagogi
9Solidaritas Primer (ʿAṣabiyyah) sebagai Ontologi Kohesi PolitikIbn Khaldūn, Aziz Al-Azmehal-Muqaddimah (1377; trans. Rosenthal 1967); Ibn Khaldun (1982)ʿaṣabiyyah; ʿumrān; siklus dinasti
10Amanah sebagai Dasar Teologi Politik TindakanṬāhā ʿAbdurraḥmān, Souleymane B. Diagne (ed.)Rūḥ al-Ḥadāthah / The Spirit of Modernity (2012/2018); Taha Abderrahmane: A Philosophical Profile (2022)amānah; etika tindakan; legitimasi
11Tindak Tutur Religius sebagai Praktik Teologi PolitikṬāhā ʿAbdurraḥmān, Mohammed HashasSu’āl al-Akhlāq (2000); “Taha Abderrahmane’s Moral Philosophy” (Religions, 2019)speech-act; bahasa–amal; performativitas wicara publik
12Populisme, Nasionalisme Agama & Politik IdentitasAndrew Whitehead, Samuel Perry, Rogers BrubakerTaking America Back for God (2020); artikel Sociology of Religion (2020); “Religious Dimensions of Political Conflict” (2015/2017)agama-bangsa; civil religion; mesianisme politik
13Teologi Politik Era Digital & AIHeidi A. Campbell, (artikel) AI & SocietyDigital Religion (2013); “Algorithmic Authority and Religion” (AI & Society, thn beragam)otoritas algoritmik; moderasi; “teodise” teknologi
14Ekoteologi, Antroposen & Keadilan IklimPaus Fransiskus, Seyyed Hossein Nasr, Willis JenkinsLaudato Si’ (2015); Man and Nature (1968); The Future of Ethics (2013)ciptaan; keadilan ekologis; liturgi ekologis; khalīfah/amanah
15Tubuh, Gender/Queer, dan Otoritas: Kerangka Teologi PolitikMarcella Althaus-Reid, Saba MahmoodIndecent Theology (2000); Politics of Piety (2005)tubuh sebagai locus teologi-politik; agensi; pengakuan; otoritas
16Lintas-Tradisi: Buddhis, Konfusian, SikhSara A. Swenson, Kathy Chow, Amardeep Kaur“Political Spirituality of Buddhist Volunteerism” (2021); “Confucian Religion & Political Theology” (2022); “Political Praxis of Sikh Nagar Kirtan” (2022)spiritualitas politik; agama sipil Asia; praksis publik; terjemahan politik

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button