KuliahPolitik Pondok Pesantren

Social Domination : Bagaimana Hierarki Sosial Dipertahankan di Pesantren

Social Domination Theory (SDT), dikembangkan oleh Sidanius dan Pratto (1999), menjelaskan bagaimana struktur sosial mempertahankan dominasi kelompok-kelompok superior terhadap yang inferior melalui berbagai bentuk legitimasi, simbol, dan ideologi. Teori ini menyatakan bahwa masyarakat membentuk sistem dominasi yang terstruktur secara hierarkis, seperti dominasi gender, etnis, kelas, dan status sosial.

Dalam konteks pondok pesantren, relasi sosial tidak sepenuhnya horizontal. Terdapat hierarki kuat antara kiai, ustaz, santri senior, dan santri baru, serta antara pesantren besar dan kecil. Dominasi ini sering kali dilegitimasi secara keagamaan, budaya, dan afektif, sehingga jarang dipertanyakan. SDT membantu menguraikan bagaimana hierarki ini dilestarikan, diterima, bahkan diinternalisasi oleh para aktornya.

Unsur / Konsep KunciPenjelasanTokoh UtamaKarya & Tahun
Social HierarchyStruktur masyarakat yang tersusun dalam posisi atas-bawah berdasarkan identitasSidanius & PrattoSocial Dominance (1999)
Legitimizing MythsIdeologi atau narasi yang membenarkan dominasi (misal: “kiai adalah pewaris nabi”)Sidanius & PrattoSocial Dominance (1999)
Group-Based DominanceDominasi satu kelompok atas yang lain (kelas, gender, status)Sidanius & PrattoSocial Dominance (1999)
Social Dominance OrientationTingkat kecenderungan individu menerima dan mendukung sistem hierarkisSidanius & PrattoSocial Dominance (1999)
Institutional DiscriminationKetimpangan struktural yang tertanam dalam institusi sosial dan budayaSidanius & PrattoSocial Dominance (1999)

Cara Social Domination Bekerja dalam Konteks Pesantren

  1. Dominasi Kiai dan Elite Pesantren
    Status sosial dan spiritual kiai menempatkan mereka pada puncak hierarki yang jarang dipertanyakan.
  2. Legitimizing Myths
    Narasi seperti "kiai adalah pewaris Nabi" atau "santri wajib khidmah" memperkuat legitimasi struktur hierarkis.
  3. Internalisasi oleh Santri
    Santri sering menerima relasi hierarkis sebagai hal alami dan religius, bukan sebagai bentuk dominasi.
  4. Diskriminasi Terselubung
    Gender (misal santri putri lebih dibatasi), asal daerah, bahkan latar ekonomi dapat menjadi dasar perlakuan berbeda.
  5. Ketaatan sebagai Orientasi Dominasi Sosial
    Semakin tinggi orientasi dominasi sosial seseorang, semakin besar pula penerimaannya terhadap status quo di pesantren.

Kritik dan Alternatif

  • Kritik:
    • Terlalu deterministik: mengasumsikan struktur dominasi selalu efektif tanpa mempertimbangkan resistensi dari bawah.
    • Kurang memperhatikan konteks lokal dan agensi aktor subaltern (santri, alumni, warga sekitar).
  • Alternatif:
    • Teori Micropolitics dan Everyday Politics dari James Scott dan Asef Bayat dapat menjelaskan bagaimana aktor-aktor subordinat menyiasati dominasi dengan cara simbolik dan sehari-hari.
    • Pendekatan Intersectionality dapat memperluas SDT dengan menunjukkan bahwa dominasi bersifat berlapis (gender, kelas, etnis, usia).

Implikasi Teoretis dan Metodologis

  • Membuka ruang untuk memahami relasi kuasa dalam pesantren tidak sebagai sesuatu yang netral atau spiritual semata, tetapi juga sebagai hasil produksi sosial.
  • Menawarkan lensa untuk membaca bagaimana kekuasaan dilegitimasi dan diterima secara sukarela oleh kelompok subordinat.
  • Dapat dipadukan dengan observasi partisipatif, analisis narasi, serta analisis struktur sosial dalam penelitian lapangan.

Kontekstualisasi Indonesia

Dominasi simbolik dan sosial dalam pesantren di Indonesia banyak dijustifikasi melalui nilai budaya, agama, dan loyalitas personal. Beberapa kasus:

  • Ketaatan mutlak terhadap kiai, meskipun dalam urusan non-agama, menandakan penerimaan atas struktur dominasi tanpa negosiasi.
  • Santri dari kalangan ekonomi bawah atau luar daerah sering mengalami pengalaman sosial subordinatif, baik dalam fasilitas maupun ekspektasi peran.
  • Peran perempuan santri di beberapa pesantren masih terbelenggu dalam sistem patriarki yang dikemas dalam narasi "kesopanan" dan "fitrah".

Namun demikian, sejumlah pesantren progresif mulai melakukan reformasi dalam struktur dan relasi kuasa internal, meski sering menghadapi resistensi dari kultur dominan.

Ruang Riset Mahasiswa

Topik RisetMetode yang Disarankan
Legitimasi ideologi hierarkis dalam pesantren melalui pengajaran kitab kuningAnalisis wacana, studi teks
Relasi antara gender, status sosial, dan pengaruh dalam komunitas pesantrenEtnografi kritis, studi naratif
Praktik diskriminasi simbolik terhadap santri minoritas di pesantrenObservasi partisipatif
Kiai dan peran dominan dalam pembentukan orientasi politik alumniStudi kualitatif, wawancara mendalam
Narasi “pengabdian dan khidmah” sebagai mekanisme pelanggeng kekuasaan spiritual di pesantrenHermeneutika kritis

Related Articles

Back to top button